Legenda Jerman yang di juluki Der Kaize, Franz Beckenbauer memuji langsung pelatih Jerman, Joanchim Low yang mampu memadukan seluruh pemain hingga sulit dikalahkan lawan-lawannya di Piala Dunia.
"Joanchim Low telah melakukan segalanya dengan benar. Tim Jerman secara keseluruhan, panras menjadi juara dunia, karena mereka merupakan tim terbaik diturnamen ini. Mereka merupakan perwakilan terbaik Jerman dan sukses sebagai satu tim. Kami tak memiliki messi atau Ronaldo, kami tak memiliki satu superstar. Superstar kami adalah tim."ucap Beckenbauer kepada Sky Sport, Selasa (15/7/2014)
Secara khusus, Beckenbauer memuji penampilan Benedikt Howedes yang ditempatkan Low sebagai bek kiri padahal ia sejatinya adalah bek kanan dan juga bek tengah di Scahlke 04.
ïa bermain terlampau jauh dari posisi sebenarnya dan tetap mampu menunjukan performannya. ia mampu menjawab tantangan yang di berikan Low. Howedes merupakan salah satu pemain yang paling mengejutkan saya.
Perhelatan akbar Piala Dunia 2014 telah berlalu. Tim Panser Jerman Tampil sebagai juara dunia untuk keempat kalinya dengan menggusur lawan-lawan kuatnya termasuk brasil dan argentina.
Meskipun telah berlalu, ada sejumlah pesan yang terwariskan dari ajang 4 tahunan itu. Jerman juara karena. kolektivitas dalam bermain, Brasil yang lalai dalam meregenerasikan skuatnya, serta perntingnya pendekatan sains dan keterukuran dalam pembangunan olahraga, jadi tidak cukup sekadar bakat besar.
Jerman tidak punya pemain semacam Lionel Messi di Argentina, Neymar Jr. di Brasil atau Luis Suarez di Uruguay. Tapi mereka punya kolektivitas. Itu yang menyulitkan lawan mendeteksi pemain tertentu yang bisa dikawan secara khusus yang begitu "dimatikan" tak ada opsi lagi untuk menggendor lawan.
Thomas Mueller memang hebat. Dia mencetak 5 Gol di Piala Dunia 2014 dan top skor Piala Dunia 4 tahun lalu dengan 5 Gol. Jerman juga memiliki Miroslav Klose yang menjadi top skor Piala Dunia sepanjang masa.
Namun, Jerman bukan hanya Mueller dan Klose. Dengan mudah kita akan dapat menyebutkan sederet nama lain yang juga tampil ciamik dan jelas tidak berada dengan Arjen Robben-nya yang mempunyai peran nyaris seperti Messi di Argentina.
Yang terjadi dengan Argentina, begitu Messi "dimatikan" segenap barisan depan Tango pun langsung Lunglai. Begitu pula yang terjadi dengan Uruguay. Setelah Suarez diskor lantaran menggigit bek Italia Giorgio peran nyaris seperti Messi di Argentina.
Jelaslah bahwa pelajaran penting yang diwariskan oleh skuat Der Panzer pada Piala Dunia ini adalah kolektivitas atau kebersamaa. Jika ditarik kebudayaan bangsa indonesia, itulah yang namanya gotong royong.
Sederhananya : kerja bersama itu lebih mudah dan potensinya suksesnya lebih besar ketimbang bekerja sendiri atau hanya mengandalkan tokoh tertentu.
Pentingnya Regenerasi
Hal lain perlu diambil sebagai hikmah dari hancur leburnya Brasil pada Piala Dunia yang diselenggarakan dinegara sendiri ialah lalainya proses regenerasi akan menghancurkan kekuatan tim dengan talenta besar sekalipun.
Sekitar 10 tahun yang lalu kita dengan mudah menyebutkan nama-nama seperti Ronaldo, Robinho, Ronaldinho, Kaka dan lainnya. Tetapi sekarang, alangkah sulitnya kita menemukan nama lain yang pantas diapungkan sebagai andalan di lini depan setelah Neymar.
Apakah Hulk, Fred, Jo atau Bernard memang nama yang pantas disandingkan dengn Neymar saat ini atau tiga nama berawalan Ro pada 10 tahun silam? Rasanya jauh. Indikasinya sederhana saja, lihat klub mana bermain.
Hulk main untuk Zenit St. Petersburg, Fred di Fluminense, lantas Jo Altetico Mineiro, sementara Berand di Shakhtar Donets itu deretan nama-nama klub yang levelnya medioker di pentas internasional. Dampaknya, mereka pun tidak terasah untuk bertarung dalam laga keras dan ketat.
antas lihat pula di posisi penjaga gawang. Julio Cesar sudah berusia 34 tahun dan kualitas permainannya harus disebut mengalami penurunan yang signifikan selama 4 tahun belakangan, khususnya setelah tidak lagi bermain untuk klub Serie A Italia Inter Milan sejak 2 tahun lalu.
Anda bisa bayangkan, kiper utama timnas dengan lima gelar juara dunia bernama Brasil kini hanyalah seorang yang bermain untuk Toronto FC, peserta kompetisi Major League Soccer (MLS) yang diikuti klub-klub Amerika Serikat dan Kanada.
Selepas dari Inter, Julio Cesar main untuk Queens Park Rangers. Hasilnya, klub Inggris itu turun kasta dari Liga Primer ke Divisi Championship, kompetisi level kedua dalam struktur Liga Inggris. Setelah itu, lantaran permainannya dinilai tak mumpuni lagi oleh QPR, Julio Cesar pun dilego ke Toronto FC.
Ironisnya, itulah yang tetap dipertahankan sebagai penjaga gawang Brasil, negara dengan reputasi sebagai juara dunia lima kali. Tetapi, persoalannya, memang itulah stok kiper yang ada untuk Brasil. Tim Samba tak memiliki penjaga gawang dengan prestasi mentereng di pentas sepak bola internasional.
Karena itu pula, muncullah nama-nama seperti Jefferson yang hanya main untuk klub lokal Botafogo dan Victor yang juga main di Brasileirao bersama Atletico Mineiro sebagai kiper cadangan Brasil di Piala Dunia 2014. Sebagai catatan tambahan, usia dua kiper cadangan ini pun sudah sama-sama 31 tahun.
Posisi Brasil di lapis bawah sepak bola dunia akibat dua kekalahan memalujkan dari Jerman dan Belanda di semifinal dan perebutan tempat ketiga Piala Dunia tak akan mudah dibangkitkan, mengingat di lapisan usia di bawah skuat saat ini tidak tersedia stok pemain dengan kualitas yang memadai.
Kenyataan bahwa Brasil gagal lolos ke Piala Dunia U-20 tahun lalu di Turki menunjukkan bahwa ada regenerasi yang tidak berjalan.
Nah, A Selecao telah memberi contoh yang sayangnya buruk, betapa pentingnya proses regenerasi bagi sebuah tim, termasuk tim nasional sekelas Brasil, untuk tetap eksis dalam pertarungan di pentas atas semacam Piala Dunia.
No comments:
Post a Comment